Sistem Pendidikan Unggulan di Negara nan Indah, Switzerland
- Jan 1, 2018
- 3 min read

Rama Dwiyana Putera atau kerap disapa Rama adalah seorang lulusan S1 jurusan Sistem Informasi dari Universitas Indonesia yang sekarang tengah menempuh pendidikan magister di sebuah negara yang menjadi lokasi kantor pusat berbagai badan internasional seperti PBB, WHO, ILO, dan UNHCR. Yup, ialah Switzerland atau Swiss, yang akhirnya dipilih oleh Rama untuk melanjutkan studinya karena menurutnya di negara tersebut terdapat program studi yang sesuai dengan minatnya yaitu Management, Technology and Entrepreneurship.
Perguruan tinggi yang ditujunya yaitu École Polytechnique Fédérale de Lausanne, sebuah universitas sains dan teknologi yang terletak di kota Lausanne, yang merupakan salah satu universitas terbaik di dunia dan bahkan menduduki peringkat 12 berdasakan website Top Universities. Selain alasan peminatan dan universitas yang diinginkan, Rama juga mengungkapkan bahwa Swiss masih menjadi negara tujuan studi yang jarang dipilih oleh mahasiswa dari Indonesia.
Berkuliah di Swiss, self-funded atau scholarship?
Kak Rama berkesempatan menempuh pendidikan di sana dengan beasiswa dari pemerintah Indonesia yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau yang biasa kita sebut dengan beasiswa LPDP.
Saat ini Kak Rama sudah menjalani proses studinya selama 14 bulan per Oktober 2017 dari keseluruhan waktu studi yaitu 26 bulan (4 semester) untuk program Master of Science. Selama 14 bulan tersebut pastinya ia telah cukup memahami bagaimana kehidupan di Swiss. Salah satunya adalah persoalan pendidikan.
Perbedaan antara studi di Indonesia dan Swiss, menurutnya, bahwa secara umum hampir semua mahasiswa sarjana S1 melanjutkan ke jenjang master karena kualifikasi untuk lapangan pekerjaan di Swiss rata-rata setara magister. Di kampusnya sendiri, tidak ada wisuda untuk jenjang S1, jadi sudah lumrah bahwa setelah menyelesaikan program S1-nya, hampir semua mahasiswa melanjutkan ke jenjang master.
Secara spesifik ada perbedaan mendasar yang terletak pada kedalaman materi yang diberikan. Di ruang kuliah, mahasiswa diperkenalkan teori-teori umum. Selanjutnya, mahasiswa diharuskan menggali lagi informasi lebih dalam dan berdiskusi di sesi perkuliahan. Diluar kesibukannya dengan jam kuliah, tugas-tugas, dan proyek serta diskusi, ternyata Kak Rama juga bergabung di Society of Managerial Engineering (SME), salah satu asosiasi pelajar di program studi yang ia tempuh.
Menempuh studi di Negara asing pastilah memiliki tantangannya sendiri. Suka duka pasti akan dirasakan dan dilewati oleh mereka yang akhirnya memutuskan untuk bersekolah di negara dan universitas tujuan yang berkualitas tinggi. Hal tersebut juga dirasakan sendiri oleh Kak Rama. Ia menceritakan bahwa di kampusnya, atmosfer belajar cukup kondusif. Semua fasilitas (akses jurnal, perpustakaan, forum, area belajar) ditawarkan dan dapat digunakan dengan nyaman dan maksimal. Selain itu, banyak keindahan alam yang ditawarkan di Swiss. Jadi saat jenuh, ia dan teman-temannya sering pergi sejenak untuk hiking atau berjalan-jalan.
Di Swiss tidak banyak orang Indonesia sehingga Kak Rama merasa harus keluar dari zona nyaman dan berusaha enjoy dengan suasana di sana. Ia juga tinggal di kota yang berbahasa Perancis. Meskipun hampir semua perkuliahan yang diikuti berbahasa Inggris, namun ternyata Ia juga termotivasi untuk mempelajari bahasa Perancis yang sangat baru untuknya. Di luar semua itu, Kak Rama merasa perkuliahan di Swiss sangat berat, khususnya di kampus tempanya belajar. Beban perkuliahan dan ekspektasi di tempatnya cukup tinggi. Tahun pertama (baik di jenjang bachelor maupun master) adalah tahun seleksi di mana statistik menunjukkan hanya sekitar 50% yang dapat melanjutkan ke tahun ke-dua, setiap tahunnya. Selain itu, harga-harga barang dan jasa pun sangat mahal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Eropa. Swiss merupakan negara termahal di dunia. Namun, menurut Kak Rama yang studinya dibiayai oleh LPDP, biaya hidup di Swiss dapat relative tertutupi dengan biaya bulanan yang diterimanya, dengan catatan biaya akomodasi yang cukup terjangkau.
Untuk mahasiswa asing, menurutnya biaya yang paling memakan porsi biaya bulanan adalah akomodasi. Mencari akomodasi di Swiss dapat dikatakan cukup sulit dan Ia termasuk beruntung karena bisa mendapatkan akomodasi yang layak dan cukup terjangkau. Biaya yang lain (makanan, komunikasi, transportasi, dan sebagainya), menurutnya dapat disiasati dengan cara berhemat.
Nah, berikut ada beberapa tips dan trik serta saran dari Kak Rama untuk kalian yang bercita-cita ingin melanjutkan studinya di Swiss. Kak Rama menuturkan bahwa untuk dapat berkuliah di Swiss relative mudah, karena pemerintah Swiss senang menerima pelajar-pelajar dari berbagai latarbelakang dan kewarganengaraan. Hal yang sulit adalah untuk bertahan di Swiss, khususnya di kampus-kampus unggulan. Saran dari Kak Rama adalah selalu berpikiran positif, ingin tahu, dan bersyukur atas apa yang sudah didapat. Jangan malu untuk berteman dengan orang-orang dengan latarbelakang budaya yang berbeda. Dan sangat baik jika teman-teman dapat memperoleh beasiswa untuk tinggal dan berkuliah di Swiss. Karena, meskipun biaya perkuliahan di kampus-kampus federal (EPFL dan ETH Zurich) relative terjangkau (atau setidaknya sama dengan kuliah di UI), pengeluaran bulanan amat sangat mahal.
Bekerja sampingan menurut Kak Rama bisa menjadi solusi. Walaupun kemudian harus mampu mengatur waktu karena menurutnya, di tengah perkuliahan yang sangat memakan waktu akan sulit juga rasanya menyempatkan diri untuk bekerja.























Comments